Bayangkan Anda baru pulang bekerja. Nasi bungkus sudah terbuka di meja ketika sebuah pesan masuk ke grup pertemanan. Seorang kawan diterima di pekerjaan yang lama diincarnya. Ada foto surat penawaran, disusul ucapan selamat yang datang hampir bersamaan.
Anda ikut membalas. Anda tahu berapa kali ia gagal wawancara dan bagaimana ia mempersiapkan kesempatan ini. Kabar itu memang membuat Anda senang. Rasanya menyenangkan melihat seseorang yang Anda sayangi mendapatkan hal yang diusahakannya.
Lalu layar ponsel padam.
Di meja yang sama, ada catatan pengeluaran bulan ini. Lamaran Anda sendiri belum mendapat jawaban. Tabungan kembali terpakai untuk kebutuhan mendadak. Rencana pindah kerja yang sempat terasa dekat sekarang harus digeser lagi.
Anda ingin teman itu berhasil. Anda juga ingin hidup sendiri bergerak.
Beberapa menit kemudian, muncul rasa bersalah karena sempat sedih di tengah kabar bahagianya. Nasi mulai dingin. Anda belum tahu harus menyebut perasaan itu apa.
Perasaan yang sulit diceritakan
Mengakui perasaan seperti itu bisa terasa memalukan. Kita khawatir terdengar iri atau dianggap tidak tulus berteman. Akhirnya, yang terlihat oleh orang lain hanya ucapan selamat, sementara percakapan dengan diri sendiri berlangsung jauh lebih lama.
Coba perhatikan ke mana kesedihan itu mengarah. Apakah kita ingin keberhasilan teman hilang, atau sedang kecewa karena kebutuhan sendiri belum terpenuhi? Pertanyaan ini memberi ruang untuk mengenali perasaan dengan lebih teliti sebelum menyebut diri sebagai teman yang buruk.
Ada kalanya kita tetap ingin merayakan kebahagiaan seseorang, sambil menyadari betapa lelahnya menunggu perubahan dalam hidup sendiri. Kedekatan dengan teman itulah yang dapat membuat perbandingan terasa begitu pribadi. Dulu kita duduk di kelas yang sama atau sama-sama menghitung uang makan. Kini, kita merasa jarak di antara kehidupan masing-masing semakin lebar.
Ketika usia berubah menjadi daftar target
Menjelang usia 30, sebagian orang mulai menghitung hidup melalui hal-hal yang belum dimiliki. Pekerjaan yang stabil. Pasangan. Tempat tinggal sendiri. Daftar itu bisa muncul dalam percakapan keluarga, lalu terbawa sampai ke kamar ketika semua orang sudah selesai bertanya.
Kita mungkin belum pernah benar-benar memilih seluruh target tersebut. Namun, ketika teman sebaya mulai mencapainya, kita merasa sedang melewatkan tenggat yang berlaku untuk semua orang.
Dalam teori perbandingan sosial, Leon Festinger menjelaskan bahwa orang menilai pendapat dan kemampuannya melalui perbandingan dengan orang lain, terutama ketika ukuran objektif tidak tersedia. Kerangka ini membantu kita memahami mengapa pencapaian teman bisa ikut memengaruhi cara kita menilai diri sendiri. Penerapannya pada pengalaman sehari-hari tetap bergantung pada keadaan masing-masing orang. [1]
Masalahnya, penilaian tentang hidup membutuhkan lebih banyak informasi daripada usia dan hasil akhir. Ada orang yang sejak awal bisa menyisihkan penghasilan untuk dirinya. Ada yang harus membaginya untuk kebutuhan keluarga. Kesempatan kerja, kesehatan, dan keputusan yang tersedia juga bisa berbeda.
Perbedaan itu layak diperhitungkan ketika kita menilai usaha sendiri.
Ada usaha yang jarang diumumkan
Coba ingat beberapa bulan terakhir. Mungkin ada tabungan yang belum bertambah karena Anda membayar kebutuhan orang tua. Mungkin Anda tetap datang bekerja sambil mencari pekerjaan lain, menyelesaikan tes dan wawancara setelah jam kantor.
Hal-hal itu menyita uang, waktu, dan tenaga. Hasilnya kadang tidak berupa pengumuman yang bisa dibagikan. Tagihan selesai dibayar. Kebutuhan rumah terpenuhi. Satu lamaran lagi terkirim setelah penolakan sebelumnya.
Kita juga bisa merasa bangga sekaligus kesal terhadap tanggung jawab tersebut. Menyayangi keluarga tetap dapat disertai keinginan memiliki ruang untuk rencana pribadi. Perasaan itu patut dibicarakan dengan jujur, terutama ketika beban yang dipikul mulai melebihi kemampuan.
Mengakui usaha sendiri tidak menghapus kebutuhan akan perubahan. Penghasilan mungkin memang perlu ditambah. Pembagian tanggung jawab mungkin perlu dibicarakan. Kita bisa melihat pekerjaan yang sudah dilakukan sambil tetap menginginkan keadaan yang lebih baik.
Apa sebenarnya yang sedang kita rindukan
Kalimat “hidupku tertinggal” terasa besar dan sulit dikerjakan. Cobalah mempersempitnya. Bagian mana dari kabar teman yang paling membuat Anda sedih?
Kalau kabarnya tentang pekerjaan, mungkin yang Anda rindukan adalah penghasilan yang lebih pasti atau tempat kerja yang memperlakukan Anda dengan layak. Kalau kabarnya tentang pernikahan, mungkin Anda menginginkan kedekatan dengan seseorang. Keinginan itu bisa berbeda dari dorongan untuk segera menikah agar pertanyaan orang lain berhenti.
Setelah keinginannya lebih jelas, tentukan satu hal yang masih dapat Anda usahakan minggu ini. Memperbarui riwayat kerja. Meminta masukan tentang lamaran. Membicarakan pembagian pengeluaran dengan keluarga. Pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tenaga yang tersedia.
Bila hari ini Anda terlalu lelah untuk mengambil keputusan, beri diri waktu sebelum menyimpulkan bahwa seluruh hidup telah gagal. Sebuah malam yang berat hanya memberi kita sebagian informasi tentang keadaan yang sedang dijalani.
Memberi ruang untuk diri sendiri
Penelitian Juliana Breines dan Serena Chen pada 2012 memberi alasan untuk mempertimbangkan sikap yang lebih berbelas kasih kepada diri sendiri. Dalam salah satu dari empat eksperimen mereka, peserta yang diarahkan merespons kegagalan dengan sikap tersebut menghabiskan lebih banyak waktu belajar setelah hasil awal yang buruk. Temuan itu terbatas pada kondisi penelitian; hasilnya tidak menjanjikan bahwa persoalan karier atau hidup akan otomatis selesai. [2]
Dalam keseharian, Anda bisa mencoba mengganti penilaian yang menyeluruh dengan keterangan yang lebih tepat. “Aku tidak pernah berhasil” dapat diperiksa lagi: lamaran mana yang belum berhasil, apa yang masih bisa diperbaiki, dan bantuan apa yang diperlukan? Pertanyaan yang jelas memberi kita sesuatu untuk ditindaklanjuti.
Anda juga boleh memilih waktu untuk membuka kembali grup pertemanan. Ucapan selamat yang tulus tidak harus disertai kesiapan untuk terus mengikuti semua percakapan malam itu. Hubungan bisa tetap dirawat setelah Anda punya sedikit ruang untuk memahami perasaan sendiri.
Kembali ke meja makan
Dalam gambaran di awal tulisan, nasi Anda mungkin sudah dingin. Pekerjaan baru belum datang. Catatan pengeluaran masih berada di tempat yang sama.
Malam itu, Anda bisa menghabiskan makanan terlebih dahulu. Sesudahnya, buka satu lowongan yang tadi disimpan. Periksa syaratnya. Jika masih ada tenaga, perbaiki satu bagian riwayat kerja. Jika belum, tentukan kapan Anda akan melanjutkannya.
Di grup, ucapan selamat masih berdatangan. Anda menanyakan kapan teman itu mulai bekerja. Anda masih ingin mendengar kabar baiknya.
Sebelum tidur, Anda memilih waktu untuk melanjutkan lamaran besok. Belum ada kepastian tentang hasilnya. Namun, di antara percakapan tentang keberhasilan teman, satu kebutuhan sendiri akhirnya mendapat tempat di kalender.
Pernahkah Anda ikut bahagia atas kabar baik seseorang, lalu merasa sedih ketika kembali memikirkan hidup sendiri?
Sumber & referensi
- [1] Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140. DOI: 10.1177/001872675400700202. https://www2.psych.ubc.ca/~schaller/528Readings/Festinger1954.pdf. www2.psych.ubc.ca
- [2] Breines, J. G., & Chen, S. (2012). Self-Compassion Increases Self-Improvement Motivation. Personality and Social Psychology Bulletin, 38(9), 1133–1143. DOI: 10.1177/0146167212445599. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22645164/.




Komentar 0
Komentar diperiksa pengelola sebelum tampil. Mari berdiskusi dengan saling menghormati.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat.