Setelah berbincang dengan orang baru, kita dapat mengingat kalimat yang terasa canggung lebih lama daripada bagian yang berjalan baik. Tetapi perasaan tentang penampilan sendiri belum sama dengan informasi mengenai apa yang dipikirkan lawan bicara.

Erica J. Boothby dan rekan dalam Psychological Science pada 2018 meneliti liking gap: peserta cenderung meremehkan seberapa jauh lawan bicara menyukai dan menikmati kebersamaan mereka. Pola itu diamati dalam beberapa konteks perkenalan, termasuk laboratorium dan hubungan awal teman asrama. Hasil kelompok ini tidak memastikan bahwa orang tertentu menyukai kita atau bahwa semua tanda ketidaknyamanan adalah kesalahpahaman.

Perbedaan tersebut berguna sebagai pengingat untuk tidak memperlakukan dugaan sebagai kepastian. Dalam contoh rekaan, seseorang yang menjawab singkat mungkin sedang terburu-buru. Bisa pula ia memang ingin mengakhiri percakapan. Penelitian tidak memilihkan penjelasan di antara kemungkinan itu tanpa informasi tambahan.

Menanggapi ketidakpastian tidak harus berupa mengejar pengakuan berulang-ulang. Percakapan berikutnya dapat berlangsung bila kesempatan dan kesediaannya ada. Batas yang disampaikan tetap perlu dihormati, terlepas dari perkiraan kita tentang kesan pertemuan sebelumnya.

Memahami liking gap memberi jarak antara evaluasi diri dan pembacaan pikiran orang lain. Ruang itu dapat dipakai untuk menilai pengalaman dengan lebih terbuka, tanpa mengubah temuan psikologi menjadi jaminan penerimaan atau alasan mengabaikan pilihan lawan bicara.

Sumber & referensi

  • Erica J Boothby, Gus Cooney, Gillian M Sandstrom, Margaret S Clark (2018). The Liking Gap in Conversations: Do People Like Us More Than We Think? Psychological science. DOI 10.1177/0956797618783714.
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30183512/