Ajakan mencari ketenangan di alam terdengar sederhana sampai seseorang memikirkan jarak, biaya, waktu dan keamanan perjalanan. Bagi banyak warga kota, pertanyaannya justru apakah ruang hijau yang nyaman dapat diakses di sekitar tempat tinggal.

Gregory N. Bratman dan rekan pada 2015 membandingkan pengalaman berjalan di lingkungan alam dan perkotaan pada peserta sehat. Penelitian melaporkan penurunan ruminasi yang dilaporkan sendiri serta perubahan ukuran aktivitas otak setelah berjalan di alam. Pengamatan singkat ini tidak membuktikan penyembuhan gangguan mental atau manfaat yang sama pada semua tempat.

Ruminasi dalam penelitian merupakan konsep yang diukur dengan prosedur tertentu. Tidak semua orang yang memikirkan masalah berulang dapat dinilai dari istilah tersebut. Demikian pula, satu kunjungan yang terasa menyenangkan tidak menjadi diagnosis atau bukti perubahan otak seseorang.

Pembicaraan tentang ruang hijau dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih konkret: jalur yang dapat digunakan, tempat duduk, keamanan, dan kesempatan datang tanpa pengeluaran besar. Ini pertanyaan perencanaan yang dapat dibicarakan warga; studi tersebut tidak menguji semua rancangan fasilitas.

Bagi individu, pilihan kegiatan perlu mempertimbangkan kondisi dan kenyamanan. Orang tidak perlu menyalahkan diri karena tidak dapat melakukan perjalanan alam yang sering dipamerkan di media sosial.

Penelitian memberi alasan menilai alam sebagai bagian lingkungan hidup sehari-hari. Ia tidak menghapus kebutuhan bantuan profesional, dukungan sosial, maupun kebijakan yang mengurangi sumber tekanan.

Sumber & referensi

  • Gregory N Bratman, J Paul Hamilton, Kevin S Hahn, Gretchen C Daily, James J Gross (2015). Nature experience reduces rumination and subgenual prefrontal cortex activation. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. DOI 10.1073/pnas.1510459112.
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26124129/