Mengajak seseorang mencari bantuan dapat terdengar sederhana dari luar. Bagi orang yang hendak bercerita, pertanyaan tentang siapa yang akan tahu dan bagaimana ia akan diperlakukan dapat terasa sama pentingnya dengan informasi layanan itu sendiri.

Sarah Clement dan rekan meninjau 144 penelitian dengan 90.189 peserta dalam Psychological Medicine pada 2015. Kajian kuantitatif dan kualitatif itu menemukan hubungan negatif kecil hingga sedang antara stigma dan pencarian bantuan. Kekhawatiran membuka keadaan pribadi merupakan hambatan yang sering muncul. Bahan yang ditelusuri berasal dari 1980–2011, sehingga temuan tersebut tidak menjadi ukuran keadaan Indonesia hari ini.

Implikasinya bukan menebak alasan seseorang dari sikap diamnya. Diam dapat mempunyai banyak penjelasan yang tidak diketahui lawan bicara. Pendekatan yang lebih menghormati pilihan adalah memberi kesempatan menjelaskan kebutuhan dan menanyakan bentuk dukungan yang bersedia diterima.

Misalnya, dalam contoh rekaan seorang teman ingin ditemani mencari informasi, tetapi belum ingin keluarganya diberi kabar. Kesediaan mendampingi tidak otomatis memberi hak menyebarkan cerita tersebut. Bila diperlukan pembahasan keselamatan atau perawatan, keputusan perlu ditangani sesuai keadaan dan bantuan profesional yang tersedia.

Mengubah bahasa percakapan juga tidak dengan sendirinya menghapus biaya, jarak atau kesulitan membuat janji. Karena itu, membicarakan stigma sebaiknya membuka pertanyaan mengenai pengalaman layanan, bukan memberi tugas tambahan kepada orang yang sudah kesulitan. Dukungan dinilai dari apa yang membantu, bukan dari seberapa cepat seseorang mengikuti keinginan pemberi nasihat.

Sumber & referensi

  • S Clement, O Schauman, T Graham, F Maggioni, S Evans-Lacko, N Bezborodovs dan rekan (2015). What is the impact of mental health-related stigma on help-seeking? A systematic review of quantitative and qualitative studies. Psychological medicine. DOI 10.1017/S0033291714000129.
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24569086/