Sebuah persoalan dapat terasa harus selesai saat itu juga, bahkan ketika kedua orang kelelahan. Menentukan kapan melanjutkan pembicaraan dapat membantu menjaga arah percakapan, asalkan penundaan tidak menjadi cara menghindarinya terus-menerus.

Amie M. Gordon dan Serena Chen meneliti tidur serta konflik dalam studi pengalaman harian dan percakapan pasangan di laboratorium. Publikasi edisi 2014 melaporkan hubungan tidur yang buruk dengan beberapa ukuran konflik dan empati. Temuan ini tidak menunjukkan bahwa kurang tidur menjelaskan semua masalah hubungan.

Rancangan penelitian tersebut juga tidak menjadi aturan bahwa pasangan tidak boleh berbeda pendapat setelah jam tertentu. Kondisi individu, kebutuhan dan urgensi persoalan tetap berbeda. Artikel ini tidak memberi protokol terapi pasangan.

Kesepakatan waktu dapat dibuat konkret: topik apa yang akan dibahas, kapan keduanya memiliki ruang, dan bagaimana memastikan pembicaraan benar-benar dilanjutkan. Contoh ini membedakan jeda yang disepakati dari menghilang tanpa penjelasan.

Ketika berbicara, kejadian yang ingin diselesaikan perlu tetap jelas. Menyebut pasangan lelah atau sensitif tidak seharusnya digunakan untuk meniadakan isi keluhannya. Keadaan saat berdiskusi dan persoalan yang dibahas sama-sama memerlukan perhatian.

Riset tidur mengingatkan bahwa percakapan berlangsung pada tubuh dan jadwal yang nyata. Mempertimbangkan keadaan itu dapat menjadi bagian penghormatan, sambil tetap memberi tempat bagi masalah yang perlu diselesaikan.

Sumber & referensi