Mengetahui istilah kesehatan mental dapat menjadi awal mencari penjelasan. Namun, kemampuan menyebut nama gangguan dan kemampuan membantu seseorang adalah dua pertanyaan berbeda. Informasi yang berguna juga perlu menjelaskan keterbatasannya dan ke mana pembaca dapat membawa pertanyaan berikutnya.

Anthony F. Jorm dan rekan memperkenalkan pembahasan literasi kesehatan mental dalam penelitian yang terbit di Medical Journal of Australia pada 1997. Survei Australia tahun 1995 melibatkan 2.031 orang dewasa dengan cerita kasus depresi atau skizofrenia. Peserta diminta menilai persoalan dan kemungkinan bantuan. Penelitian mengukur pengetahuan serta keyakinan, bukan mendiagnosis peserta atau menguji khasiat pilihan pengobatan mereka.

Konteks waktu dan negara tersebut perlu dipertahankan ketika riset dibaca sekarang. Angka surveinya tidak dapat dipindahkan menjadi penilaian tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia. Nilai pengantarnya terletak pada pertanyaan mengenai bagaimana orang memahami masalah dan mempertimbangkan pertolongan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pembaca bisa membedakan dua jenis kalimat: penjelasan tentang kemungkinan gejala dan kesimpulan bahwa orang tertentu pasti memiliki suatu gangguan. Kesimpulan kedua memerlukan penilaian yang tidak tersedia hanya dari unggahan singkat. Mengirim daftar istilah kepada teman pun belum tentu menjawab kebutuhan teman tersebut.

Literasi dapat diwujudkan dengan memeriksa asal informasi, menyiapkan pertanyaan untuk konsultasi, dan mengakui ketika pengetahuan sendiri belum cukup. Ruang untuk mengatakan belum tahu sama pentingnya dengan keberanian mencari jawaban.

Sumber & referensi