Ketika seseorang kesulitan belajar, nasihat untuk berusaha lebih keras sering datang lebih cepat daripada pertanyaan tentang hambatannya. Padahal, waktu, bahan, penjelasan dan kesempatan memperoleh umpan balik dapat berbeda.

Victoria F. Sisk dan rekan pada 2018 menelaah hubungan growth mindset dengan prestasi serta efek intervensinya dalam dua meta-analisis. Efek keseluruhan lemah, walau sejumlah temuan mengarah pada kemungkinan manfaat kelompok tertentu. Hasil tersebut tidak menyatakan bahwa keyakinan tidak penting; ia membatasi janji besar yang dilekatkan pada satu gagasan.

Keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang juga tidak sama dengan mengulangi cara yang tidak membantu. Dalam kegiatan belajar, pertanyaan yang dapat diperiksa ialah bagian mana yang belum dipahami, contoh apa yang dibutuhkan, dan siapa yang dapat memberi umpan balik.

Seseorang dapat memilih tujuan kecil yang menggambarkan keterampilan, misalnya menjelaskan satu konsep dengan kata sendiri. Jika belum berhasil, catatan mengenai letak kesulitan lebih berguna daripada cap malas atau tidak berbakat. Contoh ini cara merancang percakapan belajar, bukan program intervensi yang diuji oleh seluruh studi.

Lingkungan belajar perlu menghindari penggunaan mindset untuk memindahkan seluruh tanggung jawab kepada peserta. Kekurangan akses tidak dapat diselesaikan dengan slogan tentang pikiran positif.

Gagasan perkembangan kemampuan dapat menjadi undangan mencoba dan memperbaiki strategi. Nilainya lebih masuk akal ketika disertai dukungan nyata serta kebebasan mengakui kesulitan, tanpa janji bahwa perubahan keyakinan akan otomatis menghapus semua hambatan.

Sumber & referensi

  • Victoria F Sisk, Alexander P Burgoyne, Jingze Sun, Jennifer L Butler, Brooke N Macnamara (2018). To What Extent and Under Which Circumstances Are Growth Mind-Sets Important to Academic Achievement? Two Meta-Analyses. Psychological science. DOI 10.1177/0956797617739704.
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29505339/