Menolong teman dapat memberi rasa berarti, tetapi tidak semua permintaan harus dijawab dengan kesediaan tanpa batas. Kemampuan, waktu dan kebutuhan penerima bantuan layak dibicarakan agar niat baik tidak berubah menjadi janji yang sulit ditepati.

Meta-analisis Oliver Scott Curry dan rekan pada 2018 mencakup 27 studi eksperimental dengan 4.045 peserta. Tindakan baik menunjukkan pengaruh rata-rata kecil hingga sedang pada kesejahteraan pelakunya. Penelitian tersebut tidak menetapkan bahwa setiap bantuan selalu membuat seseorang lebih bahagia atau menguntungkan penerimanya dengan cara yang sama.

Pertanyaan yang sering terlupakan ialah bantuan apa yang benar-benar dibutuhkan. Menawarkan diri mendengar, membantu tugas tertentu atau mencarikan informasi dapat memiliki kegunaan berbeda. Meminta persetujuan penerima juga memberi ruang baginya untuk menolak tanpa harus membalas kebaikan.

Batas dapat disampaikan secara konkret. Seseorang dapat bersedia membantu mengantar dokumen pada hari tertentu, tetapi tidak mampu mengambil seluruh tanggung jawab. Penjelasan semacam itu membuat kesepakatan lebih mudah dipahami dibanding menyetujui semuanya lalu menghilang.

Hubungan sosial bukan proyek menaikkan skor kebahagiaan. Mengukur kebaikan hanya dari perasaan pelaku dapat melewatkan pengalaman penerima, relasi kuasa atau kebutuhan yang belum terdengar.

Temuan penelitian mengajak melihat kemungkinan manfaat kegiatan prososial, dengan tetap memperhatikan konteks. Dalam kehidupan sehari-hari, bantuan yang jelas dan dapat dijalankan lebih berguna daripada tuntutan agar seseorang selalu menjadi penolong.

Sumber & referensi

  • Oliver Scott Curry, Lee A. Rowland, Caspar J. van Lissa, Sally Zlotowitz, John McAlaney, Harvey Whitehouse (2018). Happy to help? A systematic review and meta-analysis of the effects of performing acts of kindness on the well-being of the actor. Journal of Experimental Social Psychology 76, 320–329. DOI 10.1016/j.jesp.2018.02.014.
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022103117303451