Percakapan pasangan sering mendapat perhatian ketika ada masalah. Padahal, saat seseorang membawa kabar baik, respons yang diterimanya juga dapat menjadi bagian pengalaman hubungan. Kesempatan berbagi tidak harus menunggu sebuah pencapaian besar.

Shelly L. Gable dan rekan pada 2004 melaporkan empat studi tentang berbagi kejadian positif. Respons yang dipersepsi aktif dan konstruktif berkaitan dengan kesejahteraan serta kualitas hubungan. Hasil tersebut tidak membuktikan bahwa satu kalimat antusias menjamin hubungan akan bertahan.

Hal yang dapat ditanyakan ialah bagaimana masing-masing ingin didengarkan. Ada orang yang ingin menceritakan prosesnya, sementara yang lain hanya hendak berbagi kabar singkat. Bertanya memberi peluang memahami kebutuhan itu tanpa menebak atau segera mengambil alih cerita.

Contohnya, ketika pasangan selesai menghadapi tugas yang sulit, percakapan dapat memberi ruang pada bagian yang paling berarti baginya. Ini ilustrasi komunikasi, bukan susunan kata yang berasal dari eksperimen atau aturan wajib bagi setiap pasangan.

Perbedaan keadaan juga perlu dipahami. Orang yang sedang lelah mungkin belum dapat merespons panjang; kesepakatan melanjutkan percakapan dapat dijelaskan daripada menganggap diam selalu berarti tidak peduli. Kebutuhan kedua pihak tetap layak didengar.

Riset ini memperluas perhatian dari penyelesaian konflik ke pengalaman positif bersama. Hubungan tidak perlu diukur dari seberapa meriah setiap respons, melainkan apakah ada kesempatan saling memahami apa yang sedang dibagikan.

Sumber & referensi

  • Shelly L Gable, Hairy T Reis, Emily A Impett, Evan R Asher (2004). What do you do when things go right? The intrapersonal and interpersonal benefits of sharing positive events. Journal of personality and social psychology. DOI 10.1037/0022-3514.87.2.228.
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15301629/