Ketika anak melanggar kesepakatan, orang dewasa dapat merasa harus menunjukkan ketegasan seketika. Namun, ketegasan dan pukulan bukan hal yang sama. Kebutuhan memberi batas dapat dibicarakan tanpa menjadikan rasa sakit sebagai bukti bahwa orang tua serius.

Elizabeth T. Gershoff dan Andrew Grogan-Kaylor pada 2016 merangkum penelitian tentang memukul anak. Hubungan yang ditemukan mengarah pada risiko hasil yang merugikan, dengan berbagai rancangan penelitian. Gabungan studi itu tidak memperkirakan masa depan seorang anak secara pasti atau menjelaskan seluruh keadaan keluarga.

Riset ini memberi alasan untuk tidak memasarkan hukuman fisik sebagai cara yang terbukti membangun karakter. Klaim “saya dulu dipukul dan baik-baik saja” adalah pengalaman pribadi, bukan perbandingan yang menguji manfaat serta risiko pada banyak anak.

Dalam percakapan pengasuhan, tujuan aturan perlu dibuat jelas: perilaku apa yang diharapkan dan bagaimana orang dewasa akan merespons secara aman. Pengasuh dapat meminta bantuan profesional untuk menyusun pendekatan yang sesuai usia serta keadaan, terutama bila konflik berulang.

Dukungan juga perlu melihat beban orang dewasa. Pembagian tugas dan kesempatan memperoleh bantuan bukan alasan membenarkan kekerasan, tetapi bagian penting membuat perubahan dapat dijalankan.

Anak tidak memerlukan label buruk agar perilakunya dibicarakan. Menjaga keselamatan dan memberi penjelasan yang sesuai tetap dapat menjadi dasar batas, sambil membuka ruang memperbaiki cara pengasuhan.

Sumber & referensi

  • Elizabeth T Gershoff, Andrew Grogan-Kaylor (2016). Spanking and child outcomes: Old controversies and new meta-analyses. Journal of family psychology : JFP : journal of the Division of Family Psychology of the American Psychological Association (Division 43). DOI 10.1037/fam0000191.
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27055181/