Mengenal wayang tidak selesai dengan mengamati bentuk tokohnya. Cerita, cara membawakan suara, gerak dan iringan membentuk pengalaman pertunjukan. Hubungan antarbagian itu membantu pembaca melihat kerja yang berada di belakang tampilan visual.

Uraian UNESCO tentang Wayang puppet theatre menjelaskan peran dalang dalam menggerakkan tokoh, membawakan repertoar dan mengolah bagian naratif. Penyanyi serta pemusik ikut membentuk pertunjukan. Dokumentasi tersebut juga mencatat keragaman gaya yang berkembang di sejumlah daerah.

Repertoar cerita dan teknik pementasan diwariskan secara lisan dalam lingkungan dalang, pemusik dan pembuat wayang. Penjelasan ini menempatkan pelestarian sebagai persoalan pengetahuan serta keterampilan, bukan hanya penyimpanan benda. Uraian tersebut tidak berarti setiap keluarga atau bentuk wayang mempunyai cara belajar identik.

UNESCO mencatat proklamasi pada 2003 dan pencantuman dalam daftar representatif pada 2008. Kedua keterangan merupakan tahap pengakuan yang berbeda. Status warisan tidak otomatis menjadi penilaian kualitas setiap pementasan atau pembenaran atas semua klaim promosi yang memakai nama wayang.

Dalam pembacaan Aporiameso, rasa ingin tahu dapat diarahkan pada asal cerita, pilihan bahasa, iringan dan proses latihan pelaku. Menanyakan bagian-bagian itu membuka ruang memahami variasi. Artikel ini merupakan pengenalan melalui dokumentasi tertulis, tanpa menilai atau melaporkan sebuah pertunjukan tertentu.

Sumber & referensi