Harga yang dibayar di kasir tidak selalu mencakup seluruh pengorbanan untuk memperoleh barang. Ketika pembelian memerlukan antrean, waktu yang dipakai menunggu menjadi pertanyaan tambahan dalam membaca pengalaman konsumen.
Robert T. Deacon dan Jon Sonstelie membahas persoalan ini dalam Economic Inquiry pada 1989. Dalam kerangka pembatasan harga dan pembagian barang melalui waktu tunggu, pembeli dapat memperbesar jumlah setiap pembelian untuk mengurangi frekuensi mengantre. Respons yang masuk akal bagi seorang pembeli belum tentu efisien bagi keseluruhan sistem.
Abstrak penelitian menjelaskan bahwa biaya respons tersebut ditambah nilai waktu menunggu dapat menghabiskan manfaat yang dialihkan melalui harga terkendali. Penulis memberi aplikasi empiris pada pengendalian harga bensin. Temuan itu berasal dari model dan konteks historis tertentu, bukan penghitungan kerugian antrean Indonesia saat ini.
Dalam ilustrasi rekaan, dua toko menjual barang dengan harga sama tetapi waktu tunggunya berbeda. Pengalaman pembeli belum tentu sama, walaupun struk pembayarannya identik. Contoh ini tidak menetapkan nilai rupiah waktu setiap orang atau menilai penyebab antrean nyata.
Pembacaan Aporiameso menempatkan waktu sebagai bagian informasi layanan. Penilaian dapat menanyakan durasi, pola kedatangan dan kesempatan yang dilewatkan. Untuk menyimpulkan besarnya biaya atau solusi bagi lokasi tertentu, tetap diperlukan data setempat; teori antrean tidak dapat menggantikannya.
Sumber & referensi
- Robert T. Deacon, Jon Sonstelie (1989). The Welfare Costs of Rationing by Waiting. Economic Inquiry 27(2),179–196, April 1989. DOI: 10.1111/j.1465-7295.1989.tb 00777.x.
- https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1465-7295.1989.tb00777.x
- Diakses 19 Oktober 2026; klaim dibatasi pada abstrak dan bibliografi, bukan telaah seluruh teks penuh.




Komentar 0
Komentar diperiksa pengelola sebelum tampil. Mari berdiskusi dengan saling menghormati.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat.