Dalam dharma wacana Komang Gegel yang dimuat Ditjen Bimas Hindu, Tri Hita Karana dibahas melalui keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Konsep yang kuat dalam kehidupan Hindu Bali ini mengajak orang melihat hubungan yang berkaitan, bukan hanya menyelesaikan urusan pada satu sisi.
Sebagai refleksi praktis, sebuah kegiatan bersama dapat ditinjau dari cara orang berpartisipasi, memperlakukan tempat, serta menjalankan tanggung jawabnya. Memasang nama konsep pada acara belum menjelaskan apakah hubungan tersebut benar-benar diperhatikan. Pengalaman peserta dan keadaan lingkungan tetap perlu didengar.
Pembaca juga perlu membedakan kerangka ajaran dan rincian praktik. Komunitas Hindu mempunyai keragaman tradisi serta keadaan setempat. Penjelasan singkat tidak menggantikan bimbingan pemuka atau pemahaman mengenai tata cara yang digunakan komunitas.
Untuk belajar, pilih satu pengalaman sehari-hari lalu tanyakan hubungan mana yang sudah dijaga dan mana yang diabaikan. Pertanyaan itu dapat membuka percakapan tanpa segera mengklaim telah mencapai keharmonisan sempurna. Dengan demikian, istilah Tri Hita Karana tetap terhubung pada kerja merawat relasi, bukan berhenti sebagai ungkapan yang ditempel pada setiap kegiatan.
Sumber & referensi
- Komang Gegel (2021). Wawasan Kerukunan dalam Tri Hita Karana. Ditjen Bimas Hindu, Kementerian Agama RI, Dharma Wacana, 13 September 2021.
- https://bimashindu.kemenag.go.id/index.php/dharma-wacana/wawasan-kerukunan-dalam-tri-hita-karana-kkerK
- Diakses 19 Oktober 2026; bagian sumber yang relevan dibaca.




Komentar 0
Komentar diperiksa pengelola sebelum tampil. Mari berdiskusi dengan saling menghormati.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat.