Jadwal sekolah, pemeriksaan kesehatan dan kebutuhan harian anak dapat melibatkan lebih dari satu pengasuh. Ketika informasi terpecah, anak mudah ditempatkan sebagai pembawa pesan mengenai persoalan orang dewasa.
Diogo Lamela dan Bárbara Figueiredo meninjau penelitian coparenting setelah perpisahan dalam publikasi 2016. Kajian menghubungkan mutu koordinasi pengasuhan dengan kesehatan mental anak. Sebagian besar bukti bersifat hubungan statistik; ia tidak menetapkan satu susunan keluarga atau menjelaskan seluruh hasil perkembangan.
Pembicaraan dapat dimulai dari informasi yang memang diperlukan untuk perawatan anak. Siapa yang menerima kabar dari sekolah, bagaimana perubahan jadwal disampaikan dan siapa yang dapat dihubungi? Contoh pertanyaan ini membantu memisahkan urusan pengasuhan dari tuntutan agar semua perbedaan orang dewasa selesai.
Artikel ini tidak menganjurkan komunikasi langsung bila terdapat risiko keselamatan atau pembatasan hukum. Keadaan seperti itu memerlukan bantuan profesional serta pengaturan yang sesuai; hasil riset tidak dapat menggantikan penilaian tersebut.
Anak juga perlu didengar dengan cara yang sesuai usia, tanpa diminta memilih pihak atau mengurus emosi orang dewasa. Informasi pribadi tentang anak sebaiknya dibagikan hanya untuk tujuan yang jelas.
Kerja sama tidak berarti semua pengasuh memiliki pengalaman dan pandangan yang sama. Kejelasan tanggung jawab serta jalur informasi dapat menjadi sasaran yang lebih konkret, sementara kebutuhan keselamatan tetap didahulukan dalam setiap pengaturan.
Sumber & referensi
- Diogo Lamela, Bárbara Figueiredo (2016). Coparenting after marital dissolution and children's mental health: a systematic review. Jornal de pediatria. DOI 10.1016/j.jped.2015.09.011.
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27215765/




Komentar 0
Komentar diperiksa pengelola sebelum tampil. Mari berdiskusi dengan saling menghormati.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat.