Sekolah yang menerima murid berprestasi dapat mempunyai hasil ujian tinggi sejak awal. Untuk menilai kontribusi sekolah, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana capaian murid itu dibandingkan dengan keadaan andaikan mereka belajar di tempat lain. Rata-rata nilai akhir saja belum menyelesaikannya.

Atila Abdulkadiroglu, Joshua D. Angrist, dan Parag A. Pathak meneliti sekolah berbasis ujian di Boston dan New York dalam naskah kerja NBER tahun 2011. Mereka memakai batas penerimaan melalui rancangan regression discontinuity untuk membandingkan pelamar yang berada dekat ambang. Pada banyak ukuran capaian, tawaran masuk tidak menunjukkan pengaruh besar bagi sebagian besar pelamar yang dibandingkan, dengan beberapa hasil khusus menurut kelompok dan tes.

Hasil itu bukan vonis bahwa setiap sekolah selektif tidak bermanfaat. Rancangan ambang terutama memberi informasi tentang pelamar yang keputusan penerimaannya dapat berubah di sekitar batas. Tujuan sekolah dan pengalaman yang tidak tercakup tes juga perlu dibedakan dari hasil yang benar-benar diukur.

Dalam contoh rekaan, dua sekolah melaporkan nilai lulusan sama, tetapi kemampuan awal muridnya berbeda. Membandingkan angka akhir tanpa titik awal dapat mengaburkan perkembangan yang terjadi. Contoh tersebut tidak menggambarkan sekolah nyata.

Bagi pembaca informasi sekolah, pertanyaan tentang kriteria masuk, perkembangan belajar, dukungan dan ukuran hasil lebih berguna daripada reputasi tunggal. Penelitian luar negeri membantu menjelaskan persoalan pembanding; penilaian sekolah Indonesia tetap memerlukan bukti yang sesuai.

Sumber & referensi

  • Atila Abdulkadiroglu, Joshua D. Angrist, Parag A. Pathak (2011). The Elite Illusion: Achievement Effects at Boston and New York Exam Schools. NBER Working Paper 17264.
  • https://www.nber.org/papers/w17264
  • Diakses 19 Oktober 2026 melalui abstrak dan bibliografi dalam dataset metadata resmi NBER; teks penuh belum ditelaah.