Anjing yang segera berhenti melakukan sesuatu belum tentu memahami perilaku apa yang diharapkan. Karena itu, menilai latihan hanya dari kepatuhan dapat melewatkan pengalaman hewan selama proses belajar. AVSAB merekomendasikan metode berbasis imbalan dan menolak cara yang menimbulkan rasa sakit atau ketakutan.

Penelitian Ana Catarina Vieira de Castro dan rekan di PLOS ONE pada 2020 mengikuti 92 anjing dari sekolah dengan pendekatan berbeda. Kelompok dengan metode aversif menunjukkan lebih banyak tanda stres dan perbedaan pada pengukuran lain. Peserta tidak dibagi secara acak ke sekolah, sehingga karakter pemilik, anjing dan lingkungan dapat ikut memengaruhi hasil. Studi ini tidak mengukur keberhasilan semua pelatih.

Bagi pemelihara, penilaian awal dapat dimulai dari pertanyaan konkret: perilaku pengganti apa yang diajarkan, bagaimana kesulitan dikurangi, dan apa yang dilakukan ketika anjing takut? Penjelasan yang dapat diperiksa lebih membantu daripada janji mengubah perilaku dengan cepat.

Sebagai contoh, tamu yang datang dapat menjadi situasi belajar sekaligus persoalan keselamatan. Mengatur jarak serta meminta bantuan profesional yang menggunakan metode manusiawi berbeda dari menghukum hewan ketika sudah kewalahan. Contoh ini bukan protokol untuk menangani agresi; risiko gigitan membutuhkan penilaian langsung.

Latihan seharusnya membuat interaksi lebih dapat dipahami oleh kedua pihak. Bila perilaku berubah mendadak atau menimbulkan risiko, dokter hewan dapat membantu menilai faktor kesehatan dan kebutuhan rujukan. Perhatian pada kesejahteraan tidak mengurangi tujuan belajar; ia menentukan bagaimana tujuan itu dicapai.

Sumber & referensi